Rabu, 15 Oktober 2025

 

CERITA CIHERAS

Hidup Ini Tentang Seberapa Sungguh-Sungguh Kita Bercerita

(Karya: Dheny Nur Syahid) February 2020

 

  

Sudahkah kalian ciptakan sebuah cerita hari ini kawan? Entah tentang kebodohan yang kelak kau tertawakan atau bahkan hal menakjubkan yang nantinya dapat kau banggakan. Yah, simpan saja itu untuk ceritamu sendiri. Kali ini, akan ku ceritakan sebuah jejak rekam kenangan dalam bentuk tulisan yang sempat terlintas dan menjadi lampiran kisah hidupku.

 

Sebut saja namaku Dheny, walau terkadang teman-teman sering memanggilku dengan panggilan “den, ni, deni, ndes, ndul, ndut, cuk, heh”, yaahhh terserahlah sesuka kalian, akupun tak terlalu peduli. Di sisi lain aku adalah salah satu pemuda dengan status mahasiswa di kampus yang agak sedikit terkenal di kota Semarang, berasal dari jurusan yang katanya banyak lelaki tampan dan menawan walau belum mapan. Ya, jurusan yang terkenal banyaknya kaum-kaum adam yang rindu akan sentuhan perempuan. Mungkin itu sebabnya mahasiswa Teknik terlihat begitu menawan sekaligus disebut-sebut sebagai sarangnya buaya daratan, katanya. Cerita ini bermula ketika aku sedang menempuh perkuliahan semester lima, masa dimana mulai bermunculan berbagai masalah yang harus ku hadapi bersama otak dan hati untuk berdamai dengan diri sendiri. Tentang cinta, cita, cerita mimpi yang terpampang begitu indah untuk dijadikan nyata, walau nyatanya hanya lelahnya yang begitu terasa.

 

Saat itu, waktu berjalan di akhir tahun 2019. aku mulai menyadari pentingnya mempersiapkan segala keperluan untuk tugas-tugas akademik dengan matang. Salah satunya dimana aku akan mencari tempat magang. Jelas saja, sebagian besar teman-temanku sudah menemukan tempat dambaan yang cocok untuk mendapatkan pengalaman yang selama ini diidam-idamkan. Sedangkan diriku yang terbiasa selalu menunda-nunda apapun itu yang bisa ku tunda, masih tampak santai saja. “Ya sudahlah mau gimana lagi… haha” gumamku dalam hati. Padahal, waktu takkan berhenti atau bahkan berputar ke kiri. Seperti yang sudah-sudah. kini jadwal itu semakin dekat dan aku mulai risau akan apa yg harus ku lakukan saat itu. Tiba-tiba aku teringat akan sebuah momen dan seseorang yang sempat mencuri perhatianku di masa lalu.

 

Berawal dari mengenal nama Ricky Elson seorang jenius paruh baya yang kini namanya dikenal dengan Putra Petir karena telah menciptakan sebuah mobil listrik elegan bagi Nusantara. Saat itu bang Ricky mengisi seminar di kampus tercintaku tentang Renewable Energy. Lalu aku teringat ada beberapa kakak tingkat yang pernah mengunjungi perusahannya dan sekaligus magang disana. Tak ambil pusing, akupun menguhubungi dan mendatangi senior-seniorku itu. Seperti biasa, meraka tampak memasang wajah garang dengan puluhan helai jenggot yang tumbuh di dagunya yang terlihat mungil itu, tak terbayang bukan? berapa banyaknya garam kehidupan yang telah mereka telan. Basa-basi singkat mengawali pertanyaan-pertanyaan yang akan ku lontarkan kepada mereka. Benar saja, sebelumnya mereka pernah berkunjung untuk magang ke tempat yang ku tanyakan. Tepatnya perusahaan yang bernama PT. Lentera Bumi Nusantara. Sontak saja akupun mulai tertarik untuk ikut merasakan pengalaman magang di sana. Seputar informasi pelaksanaan, hal apa yang dilakukan, hingga cara pendaftaran serta ilmu apa yang didapatkan. Semuanya telah kudapatkan jawaban.

 

“Tempat santai di pinggir pantai, pengalaman asik tanpa perkusik, teman baru dari segala penjuru, pelajaran kehidupan yang banyak kenangan”, ucapan mereka terdengar meyakinkan. Mendengar cerita itu tanpa mengalaminya langsung terdengar kurang ajar. ” Sudah kuputuskan untuk pergi ke sana!” teriakku dalam hati. Rencananya akan ku ajak ketiga temanku dari satu jurusan kesana bersama-sama. Mereka adalah Denis, Rizal dan Ari, awalnya mereka sempat bimbang sebab sudah memiliki tujuan perusahaan sendiri-sendiri. Denis, si anak bawang asal Jakarta Selatan yang tampak kekinian, berpandangan ingin ke perusahaan di daerah sekitar kota Bogor dari orang dalam yang tak lain adalah pamannya sendiri. Sedangkan Rizal, si bocah ingusan asal Seragen yang selalu bertindak sembrono seenak jidatnya dan Ari, si rajin asal Karanganyar yang sering sekali mengerjakan tugas kelompok dengan sendirian sebab terlalu rajinnya dia. Mereka berdua, sebelumnya ingin ke perusahaan yang dekat dengan rumah mereka. Setelah terlewati segala upaya hasutan, bujukan, paksaan yang ku berikan untuk mencuci otak mereka. Cerita demi cerita akhirnya semua sepakat untuk berangkat. “Yeyyy” kini hanya perlu menyiapkan apa yang perlu dipersiapkan.

 

            Singkat cerita, kami berempat memulai perjalanan dari titik keberangkatan yang tak sama. Denis berangkat menaiki bus dari Jakarta. Rizal dan Ari berboncengan dengan sebuah motor dari rumah mereka melewati jalur bagian Selatan pulau Jawa. Sedangkan aku sendiri, berangkat dari Semarang naik kereta api melewati jalur bagian Utara. Awalnya kita berangkat pada tanggal yang sama, di 5 Januari 2020, dan tujuan kami sama yaitu tempat terpencil di pesisir pantai di kecamatan Cipatujah, kabupaten Tasikmalaya, yang bernama "Ciheras". Tak disangka, ternyata ada sedikit hal yang membuatku terlambat menuju tempat tujuan saat itu, hingga kedatanganku berselisih beberapa hari dengan yang lainya. Satu hari ku habiskan di kota Cirebon, dua hari selanjutnya ku bersinggah di kota Majalengka, dan dua hari kemudian aku bermalam di kota Tasikmalaya. Sungguh perjalanan yang begitu melelahkan hingga akhirnya laju angin mengantarkanku ke tempat yang ku tuju. Di bibir jalan itu aku berhenti tepat di warung makan milik teh Mumut, seorang wanita pemilik warung yang lihay menggoda pelanggannya agar tetap setia datang kembali ke warungnya. Bagaimana tidak, saat pertama kali sampai di warung tersebut ia pun tak sungkan mendekatiku dengan rayuan dan lekuk tubuhnya yang aduhay membuat pria manapun meleyot dibuatnya. Hal itupun selalu dilakukannya ke setiap pelanggan yang datang, “Sungguh teknik S3 marketing yang handal” pikirku.

 

Aku tiba sekitar pukul 22.00 WIB di tempat yang terlihat senyap itu, mungkin karena suasana memang sudah larut malam dan hanya terdapat sedikit orang serta mereka yang sudah menunggu kedatanganku. Perasaan serta pertanyaan pertamaku yang tersirat dalam hati “mana tempatnya?” Karena disana memang tak ada plang atau kode apapun yang menandakan keberadaan sebuah perusahaan.

 

             Setelah puas beristirahat ditemani segelas es teh serta godaan-godaan manja oleh pemilik warung tersebut, akhirnya aku diantarkan menuju persinggahan lewat jalan setapak yang cukup gelap menuju bangunan yang mereka sebut Hotel Calipornia berbintang 7 “anggap saja iya". Terlihat plang bersar bertuliskan CIHERAS UNIVERSITY. ya, mereka biasa menyebutnya "Cihuy". Tibalah kami disebuah gedung dengan lorong tengah dan kamar berjajar berhadapan seperti tempat karantina pelatihan perwira. Akupun disuruh bebas memilih kamar mana saja, terpilihlah kamar nomor dua di lantai dua karena pemilik lantai satu tepatnya di lorong tengah sudah terisi penuh. Setelah menaruh semua barang bawaan, langsung saja teman-teman menyuruhku menghadap Pak Rete untuk mengisi buku absensi mahasiswa magang. Pak Rete Mario namanya, yang tadinya sibuk memainkan gitar dengan suasana hotel berserakan lalu berdiri mencari buku dan disodorkannya buku itu kepadaku. Setelahnya, dengan mata pelorku yang sudah terkantuk-kantuk itu ku coba membaur dengan orang-orang baru. Ku kenalkan diriku dengan Sani dan Balfir rakyat Jember yang ternyata juga mahasiswa magang. Seketika aku menanyakan apa yang akan terjadi besok. “udah santai aja yang penting jam 8 pagi breafing terus jam 8 malamnya evaluasi. Oh ya.. biasanya murid baru disuruh perkenalan tapi nanti kamu pas malamnya aja. Soalnya kalo pagi pada gak fokus nanti malah ditanyain yang macem-macem” ujar Balfir yg teman-teman biasa memanggilnya mbahe. “memangnya ditanya apa?” tanyaku. “udahlah, ntar juga tahu sendiri” jawaban dengan senyum psikopat itu semakin membuatku serasa mati penasaran. Hal itu membuatku bertanya-tanya dalam pikiran sekaligus penutup hari yang kurasa sangat melelahkan.

 

            Malam pertama aku tertidur di ruang perpustakaan. Keesokan harinya, teman-teman heboh bercerita tentang gempa dikala fajar tadi sambil mengunyah donat. Aku yang tidak merasakan apa-apa karena tertidur begitu pulasnya ikut mengiyakan saja cerita mereka. “Breafing,breafing,breafing” teriakan teman-teman sebagai alarm pertanda brefing akan di mulai. Saat breafing tiba, satu persatu menjelaskan apa yang akan dilakukan dan beberapa jawabanpun terlontar, ada yang ingin melakukan progress, mencuci baju, berbulan madu dengan diri sendiri, bahkan ada yang baru membuat kelompoknya, dan masih banyak lagi kesibukan yang akan mereka rencanakan di hari itu. Hingga sampai di ujung pembahasan terdengar “ada anak baru tidak? Kayaknya ada deh… Kalau tidak saya akan tutup Breafing di pagi ini” tanya bang shady mentor di Cihuy (Ciheras University). Sebagai seorang pria yang pemalu saat itu akupun hanya terdiam clingak-clinguk mengamati sekitar dan mencoba percaya perkataan Mbahe semalam, setelah itu Breafing pun selesai. Tanpa tahu apa yang akan aku lakukan, akupun berinisiatif untuk bertanya pada siapapun yang ada, dan ternyata aku hanya perlu menghabiskan hari untuk beradaptasi dengan lingkungan. Tenang rasanya hati kala itu.

Hari pertama berlalu, jelas saja aku berhasil jadi pengangguran sukses yang sibuk nggak ngapa-ngapain dan aku bangga atas pencapaian itu. Hanya perlu jalan-jalan melihat sekitar, sehabis waktu ashar bermain voli pantai dengan teman-teman, memanjat rumah pohon, melihat kincir serta lautan. Dan tanpa ku sangka sesuatu hal indah terjadi, yang katanya sejak akhir tahun lalu dan setelah sekian lamanya tak pernah tampak sekalipun. Sunset pertama terlihat di ufuk barat, hanya ada dua kata yang terbesit dalam pikiranku saat itu “Cantik sekali”. Tentu saja semua merasakan kegembiraan yang luar biasa. Pertama kalinya ku rasakan suasana pantai yang menenangkan sekaligus membawa kabar gembira. Senang rasanya kedatanganku disambut dengan senyuman saat mata hari tenggelam. Ternyata ada surga kecil yang indah di belahan bumi yang luas ini.

  

            Petang pun tiba, sepulang dari pantai kini saatnya membersihkan diri dengan air bersih. Terlihat barisan panjang antrean orang menunggu bak sedang mengisi bensin di SPBU. Karena tak sedikit dari mereka saat di pantai menjelma seorang pengendali air dengan tenaga dalamnya mencoba mendorong ombak ke tengah lautan, alih-alih ombak terdorong malah pasir yang masuk kantong. Tak heran, sebab kegembiraan terkadang memberikan sedikit halusinasi. Dilanjut setelah menunaikan ibadah di masjid, kami bercengkrama sembari menunggu saat evaluasi di warung teh mumut dengan memenuhi kebutuhan isi perut. Tiba-tiba terdengar percakapan bahwa bang Ricky telah kembali ke Ciheras setalah mengisi seminar ke luar kota. “kenapa memangnya dengan hal itu?” gumamku bertanya. Menyambung percakapan tersebut, Agung teman sekampus Mbahe, Sani dan juga Ivan menceritakan kalau ada bang Ricky perkenalan seadanya, tentu saja mendengar itu hati berkata “AMAN…”. Saat evaluasi pun tiba, masing-masing menjelaskan target apa saja yang telah tercapai dan kendala selama hari itu, terdengar keberhasilan menjalankan target progresnya, tercapainya bulan madu dengan diri mereka sendiri, bahkan ada pula yang targetnya gagal karena seharian sengaja tertidur, dan masih banyak lagi.

 

Di samping itu hal yang ku tunggu-tunggu pun tak juga tiba, sang Putra Petir tak kunjung datang. Tak lama sampailah pada sesi perkenalan, sontak teman-temanpun bergembira bagai gerombolan singa yang siap menerkam mangsanya. Perkenalan belum sempat dimulai dan teriakan bersahutan “Tangan,tangan,tangan” dalam hatiku berkata “apa? Memangnya tanganku jadi bercabang?? Atau tanganku lepas trus melayang??” semula yang tangan ku dalam sikap istirahat ditempat lalu ku angkat dan mereka berhenti berteriak, disini aku paham mereka menginginkanku untuk menyerah. Di awali pertanyaan, kenapa aku memilih tempat ini? tujuanku kesini? Hal apa yang ingin ku pelajari? ku jawab semua itu dengan lantang dan ku pikir semuanya telah selesai “inginku kembali duduk kembali”. Ternyata oh ternyata semuanya  memang belum usai. Muncullah pertanyaan-pertanyaan tak terduga “bawa sandal? merek apa?? Hobi apa?” ku jawablah seadanya, dalam hatiku berkata “ apa mungin mereka ingin survei pengguna sandal, lalu mendirikan toko sandal?”. Dan disusul pertanyaan lainnya hingga semua penderitaan akan rasa malu tersebut dapat ku akhiri dengan quots “Hiduplah Walau Tak Berguna” hahaha tawaku dalam hati. Untung mereka tidak menanyakan belut listrik arusnya AC atau DC, atau bahkan duluan mana ayam sama telurnya, pastinya tak kunjung selesai perkenalanku itu.

 

             Setelah itu seperti biasanya, teman-teman kembali ke hotel tempat persinggahan yang kurasa paling nyaman. Terdengar alunan suara gitar diiringi suara mistis teman-temanku bernyanyi, terlihat bayangan hitam dengan kaos terang melayang dibalik kegelapan malam ternyata mereka sedang mengopi sembari menatap indahnya taburan bintang dari balik sebuah gubug tua tak bernyawa, ada pula yang melanjutkan kembali progresnya yang tertunda, sedangkan aku masih memikir kan esok nanti ingin berbuat apa. Setelah bertanya-tanya, tak lama aku pun memutuskan memperdalam desain generator mekanik dan membentuk kelompok yang bernama Sebat’s Team. Mempelajari desain generator secara mekanik dengan aplikasi desain Solidwork. Aku pikir ini akan sedikit membuat kepalaku ingin meledak, karena aku rasa disamping bodoh untuk memahami rumitnya wanita belajar hal rumit lainnya adalah hal yang tak kusuka. Ku mulailah untuk membaca-baca reverensi, bersama satu tim membuat part hingga simulasi uji bending dan puntir yang saat itu diajarkan oleh bang Shady dan bang Ari. Lalu setiap minggunya dipertemukan dengan presentasi pencapaian yang telah kupelajari. Oh ya, selain fokus ilmu yang ku pilih masih ada beberapa hal yang dikembangkan seperti desain generator elektromagnetik, dan pembuatan beberapa jenis bilah. ya, semua itu akan dirakit untuk dijadikan pembangkit listrik tenaga angin yang kita sebut "sky dencer".

            Hari demi hari telah ku lalui, ternyata banyak hal yang ku dapatkan dari tempat ini. Tentang teman yang kukenal, pengalaman yang berarti, tentang mimpi yang sejati, hingga rasa damai untuk memahami dan bersahabat dengan diri sendiri, terlebih lagi bersahabat dengan tumpukan lemak ini yang susah sekali untuk ku mengerti. Dari sini pemahamanku tentang arti mandiri kini telah tercipta seiring pertumbuhan masa remaja yang kini beranjak dewasa. Keseharianku tak lepas dari membentuk lemak jenuh di tubuhku menjadi tetap berbentuk lemak juga sih. Ya sudahlah, mungkin aku memang ditakdirkan agar terlihat sedikit gemoy. Keseharianku terkadang sekedar menggali tanah untuk membuat kolam, mengambilkan pakan sapi, merawat si hijau kecil yang tumbuh di tanah perkebunan, memenggal rumput liar yang tumbuh tak kenal tempat, bahkan menyapu ombak di pantai terdengar seperti hal klasik yang tak berarti, semua itu menjadi cara terbaik untuk berdialog dengan alam ini. Terkadang ada juga hal menarik setelah breafing. Ya, mendengarkan bang Ricky yang bersungguh-sungguh dalam bercerita, ia selalu berkata “Jika ingin menggerakkan dunia gunakanlah tangan kirimu, dan jika ingin menyinari dunia gunakanlah tangan kananmu”. Tak jarang juga ia menceritakan sebuah kisah dari buku beraksara Jepang yang berisi tentang bagaimana menjalani kehidupan yang berjudul "Ikigai". 


                Sesekali untuk mengilangkan rasa penat, kadang kita bermain uno hingga larut malam. Yang saat itu ku mainkan bersama ami (Cewek absurd botol yakult dari padang yang tingkahnya super hyperatif yang entah mengapa selalu ceria), dan dua orang lagi, ulil dan unyil (pemuda solo yang kelakuannya tidak mencerminkan orang solo) dan permainanpun diakhiri dengan muka kita yang penuh bedak kayak bocah abis mandi yang dibedakin emaknya. Pernah juga saat sore sebelum jam voli pantai tiba aku di ajak habibi "deni, main under cover yuk", akupun menjawab "hah,under ground?". dijelaskanlah tenyata permainan yang pada intinya mengajarkan kita untuk memfitnah ituu haha.. Aku yang jarang bahkan tidak pernah main game selain ular-ularan di hp nokia dulu mulai tertarik dengan game gadged yang semenyenangkan itu. oh ya kilas balik, aku kenal habibi saat aku bertanya perihal materi yang harus ku pelajari kala nongkrong di perpustakaan. Saat pertama kali mendengar suaranya terdengar tidak asing di telingaku, dan aku ingat, itu mirip sekali dengan suara samaran penjual bakso borax haha.. Pertama kali ku mengenalnya dan kala itu juga aku mengejeknya, sungguh jahat ya. meski begitu dia adalah teman yang mengasyikkan.

    

           Terdapat hari-hari tertentu seperti, setiap Rabu adalah hari berakting menjadi bule yang berlagak ngomong bahasa enggres, padahal ngerti juga kagak. Sesekali di hari Kamis kami belajar bahasa jepang dengan teh icha yang sebenernya aku lebih mengerti enggres daripada bahasa jepang, dan sejauh ini yang ku pahami hanyalah "aishiteru". Di Setiap Jum’at adalah hari bersih, sebersih hatiku yang kosong ini, uhukkk.. dan setiap minggu adalah hari kebugaran jasmani yang biasa dirayakan teman-teman dengan senam pagi, sedangkan aku tentu saja masih nyaman dengan mimpi indahku berdiskusi  membangun kerajaan dengan raja Namrud sembari ngopi. Satu lagi, setiap pagi hari adalah harinya abang donat menyapa bersamaan sang mentari yang tersenyum manis tanpa kumis tipis, membuat siapa saja yang tadinya sinis menjadi meringis. Tak henti-hentinya ia mengikis dompet kering yang menjerit seraya merasakan kegelisahan ketika persediaan materi menipis dan menunggu kabar gembira saldo bertambah dari orang tua.  Pernah sekali, sebab memang perut sedang kosong temanku si Jubet berbisik meminjam uang, “Den, lu ada duit kagak? minjem dulu dong buat beli donat, belum ada kiriman gua.” Ujarnya. “Tenang, bet… gua ada kok di dompet! Tapi, dompet gua ada dikamar… bentar gua ambil dulu” jawabku bak pahlawan kesiangan yang menyelamatkan temanku dari serangan busung lapar. Disisi lain akupun tersadar saat diperjalanan bahwa aku lupa kalau isi dompet juga sedang tidak bersahabat. Sesampainya di hotel aku terdiam sejenak dangan memandang tatapan si Jubet yang terlihat sangat memprihatinkan kita sama-sama menunjukkan isi dompet yang tak tersisa. Saat itu kebetulan Denis sedang lewat tanpa berfikir lama akupun menghampiri Denis untuk meminjam uangnya lalu sontak aku tersenyum menatap Jubet dan kamipun tertawa dengan kerasnya Hahaha..



Banyaknya kejadian unik sempat membuatku tak bisa move on dari tempat itu. Seperti halnya cerita dibalik kamar mandi keramat, dan kenapa dijuluki keramat karena entah mengapa terkadang di tengah kesunyian malam ada suara orang yang sedang mandi di kamar mandi itu padahal tak ada satupun orang yang mengaku melakukannya dan ketika hari biasa jika ada yang mandinya lama pasti yang semua meneriaki Wendi (pemuda Asal bekasi dengan paras rambut panjangnya dihiasi kumis yang menawan). Walaupun jelas-jelas orangnya sedang di kamar dalam hotel dan berteriak “Bukann guaa woyy!! Gua disini!!” dan lagi-lagi kita tertawa haha.. sungguh kasihan wendi yang selalu difitnah mandinya lama. Disamping itu bahkan sering pula terjadi perang dunia ketiga sebab gayung yang tak bertuan menyirami siapapun orang yang sedang berjongkok rileks sembari mencari inspirasi di dalam, dan tak jarang terdapat harta karun pribadi berupa celana dalam yang bergelantungan di tepi dinding-dinding membuat suasanya kamar mandi terlihat semakin mencekam. Sungguh momen indah yang akhirnya satu-persatu teman diantar bersama saat pagi buta menanti bus yang menjemput mereka untuk pulang kerumah masing-masing. Saat itu pula sudah menjadi pekerjaan sampingan kami untuk mendapatkan pajak tambahan.

  

Gurauan, candaan, momentum kekeluargaan, rasa memiliki dan rasa nyaman. Tentu saja, itu semua yang membuat kita berfikir tak ingin kehilangan. Namun aku pun teringat akan ucapan dari bang Ricky “Setelah ini selesai kalian akan kembali ke tempat kalian masing-masing. Kalian akan menemukan tempat baru, suasanya baru, orang baru, jangan pernah terbelenggu dengan apa yang telah terjadi di masa lalu. Jadikan tempat ini sebagai genangan untuk pijakan kalian untuk melangkah menuju genangan selanjutnya. Teruslah berusaha berdamai dengan diri sendiri, tanyakan apa keinginan hati, bersahabatlah dengan kekurangan diri, berbulan madulah dengan diri sendiri. Lapangkan lahan parkir kalian seluas-luasnya, terimalah siapa saja yang datang, relakan siapa saja yang pergi. Nikmati saja prosesnya dan jangan pernah takut untuk bermimpi. Rencanakan dipagi hari apa yang akan kalian lakukan di hari ini dan evaluasi apa yang perlu dibenahi. Karena hidup ini tentang seberapa sungguh-sungguh kita bercerita”. Dengan logat padangnya ia berkata.

   

            Tek terasa kala itu jabatan Pak Rete pindah ke tangan si Jujur (nama aslinya memang Jujur meskipun orangnya terkadang tidak jujur). Dengan jajaran Menteri mendampinginya menjadi pejabat yang mungkin dapat membuatnya lebih jujur. Hana, adalah si Menteri Keuangan dengan mimik wajah yang lempeng “pikirku ialah salah satu minoritas bagian dari sekian banyak manusia yang tak pernah tersenyum”. Bersama asisten palaknya si Yuda (remaja asal Sulawesi yang pikirannya selalu kotor). Ada pula Menteri proyek Haka namanya (Bos besar beserta anak buahnya yang kala itu mengomando setiap proyek selalu saja tak kunjung selesai dengan seribu alasannya). Dan si Sani (pemuda tampan sekaligus cantik dengan geraian rambut panjang yang selalu dikibaskannya mirip iklan shampo di tv) menteri Beauty and Hansome yang mengatur system pertanian, security check tegangan battery, kebersihan lingkungan hingga kemakmuran peternakan. Disamping itu kami memiliki Menteri Kekeluargaan yang dipimpin komandan Danang, Dicky dan Elsa, walaupun terkadang sebagian konsep pemikiran mereka akhirnya selalu bertanya padaku hahaha.. Tak lupa si Mbah Balfir Menteri Kominfo (seorang lelaki yang pernah tersakiti karena wanita pujaannya telah memilih menikah dengan lelaki lain), walau begitu hasil tangkapan kameranya tak perlu di ragukan lagi.

Ya, itulah sebagian dari ceritaku kali ini yang mendasari sebagian langkahku mengartikan mimpi atau kisah seumur hidup sekali. Seperti teragedi jalan kaki menuju mercusuar menjadi awal percintaan lokasi sebagian orang dengan wanita yang diincarnya sejak awal awal menjajakkan kaki disini dan akupun tak peduli hanya dapat terlihat berbaring di atas pasir bak paus terdampar sebab letih berjalan, yah aku nyaman. Tiba saatnya pulang, permintaan ma’af  ku wakilkan dari teman-teman teruntuk Madon karena harus mengorbankan mobil kijang miliknya yang terlihat meronta-ronta menopang beban dosa kami semua. Bagaimana tidak, bayangkan saja satu mobil tua dengan empat belas orang menaikinya. Pernah juga terlaksana ajang lomba sekaligus hiburan kami “Cihuy Cup” walau menyenangkan namun terkesan menegangkan. Serta momen masak dan makan bersama yang terrasa asin seperti keringat lalat namun nikmat, dan semua alasan untuk tetap menikmati ciptaan tuhan.

  
  

            Dari sekian alasanku memilih tempat ini menjadi destinasi yang terlibat dalam episode perjalanan hidupku. Tak terlepas, dari kaki yang tak pernah berhenti melangkah menyusuri mimpi, mata yang selalu terpana menikmati manjanya langit jingga di ujung senja, hati yang terus bersyukur akan kebebasan harapan yang tak terukur, wajah yang selalu tersipu sayu menatap lautan dari balik rumah diatas pohon itu,  perasaan tenang yang tak goyang bagai air menggenang, dan raga yang mencoba berdamai dengan keadaan di zona nyaman. Waktu itu, pertemuan kami si kembar tiga tak lagi terelakkan, dimana panggilan nama awal kami sama. “Den” seketika saat ada yang memanggil dengan sengaja terdengar teriakan itu, kami semua merasa, yaa.. Deni, Denis, Dendi, Itulah kami. Terukir banyak memori yang manis di Ciheras, itu semua memang terkesan sederhana namun mungkin takkan pernah  sekalipun dapat ku lupa.

  

            Terimakasih ku ucapkan kepada Bang Ricky, Teh Icha, Teh Inayah, Bang Shady, Bang Robi, Bang Ari, Bang Yogi, Teh Leni dan semua pihak yang tak dapat ku sebutkan satu-persatu. untuk cerita yang tercipta selama di Ciheras. Suatu saat ku yakin pasti akan ada penerus bangsa yang akan mengukir ceritanya agar negeri ini terlihat lebih baik lagi.

  
  

_end_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  CERITA CIHERAS Hidup Ini Tentang Seberapa Sungguh-Sungguh Kita Bercerita (Karya: Dheny Nur Syahid) February 2020      Sudahkah kal...